Beginilah Sejarah Berdirinya Batik Danar Hadi, Batik Fenomenal Asal Solo

Batik Danar Hadi didirikan oleh putra wong solo yaitu Santosa Doellah. Bapak Santosa adalah anak ke 5 dari 10 bersaudara. Ayah bapak Santosa adalah seorang dokter anak dan kakek buyutnya yaitu Bapak H. Bakri adalah seorang pengusaha batik yang terkenal dan juga merupakan salah satu tokoh dari Serikat Dagang Islam. Bapak Santoso sudah mengenal dan tertarik dengan dunia batik sejak berusia 15 tahun dari kakeknya yang bernama R.H Wongsodinomo yaitu anak dari H. Bakri. Bapak R.H Wongsodinomo adalah pendiri dari GKBI yaitu Gabun Koperasi Batik Indonesia. Dari sejarah keluarga Bapak Santosa yang hampir seluruh keluarganya bergulat dengan dunia batik, tak heran jika sejak kecil Bapak Santosa sudah mengenal dan tertarik dangan batik. Beliau sudah mengenal berbagai jenis batik dan teknik pembuatan batik sejak masih kecil, karena seringnya beliau melihat hal tersebut di rumahnya mulai dari membuat desain batik, mengenal berbagai motif batik dengan menggunakan canting, pewarnaan dan juga nglorot atau menghilangkan malam pada kain batik setelah digambar.

Perjungan di dunia batik sudah dimulai oleh bapak Santosa sejak duduk sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi UNPAD di Bandung. Saat masih kuliah di UNPAD pak Santosa setiap hari menawarkan kain-kain batik yang beliau bawa dari solo kepada teman-temannya, dari yang awalnya hanya dipasarkan dari mulut ke mulut bisnis batik milik pak Santosa semakin berkembang sampai pada puncak kejayaan bisnis nya saat pak Santosa sedang skripsi dan pak Santosa memutuskan untuk berhenti kuliah saat itu dan memilih untuk membesarkan usahanya, ternyata pilihan itu tepat. Setelah pak Santosa menikah pada tahun 1967 pak Santosa mulai mendirikan bisnis batik nya dengan nama “Batik Danar Hadi” pertama kali didirikan di Solo. Nama Danar Hadi adalah nama gabungan dari nama istri beliau yaitu Danar dan nama keluarga besar istrinya yaitu Hadi. 

Usaha ini pertama kali didirikan dengan modal yang pak Santosa dapat dari hadiah pernikahan yang diberikan oleh kakek dan neneknya yaitu berupa 29 pak kain mori, 174 lembar kain batik, dan 20 orang karyawan. Dengan berbekal modal tersebut berdirilah batik danar hadi dengan batik tukis Wonogiren sebagai produk pertama nya. Batik Wonogiren adalah motif batik yang diadaptasi dari motif batik klasik keraton Solo. Batik Wonogiren memiliki banyak peminat sehingga dari hasil penjualannya pak Santosa berhasil mendirikan perkampungan batik di daerah Singosaren pada tahun 1968. Berkat keberhasilan membuat perkampungan batik di Singosaren, pak Santosa kembali melebarkan sayapnya dengan mendirikan perkampungan batik yang sama tetapi bertempat di Masaran, Sragen pada tahun 1970. Kemudian pak Santosa juga mendirikan sentra usaha batik di pekalongan dan cirebon pada tahun 1975.

Usaha pak Santosa semakin berkembang pesat setiap tahun nya hingga pada tahun 1980 batik Danar hadi mulai diekspor ke berbagai negara seperti Italia, Jepang, dan Amerika Serikat. Sampai akhirnya pada tahun 1997 beliau memberi Ndalem Wuryaningaratan yaitu bekas istana bangsawan yang bertempat di jalan Slamet Riyadi dengan harga 27 milyar rupiah. Bangunan tersebut memiliki luas 1.5 hektar yang akan dibuka sebagai Museum Batik Danar Hadi. Seiring dengan perkembangannya museum batik Danar hadi dilengkapi dengan Cafer dan Soga resto dan beralih nama menjadi House of Danar Hadi yang sampai saat ini menjadi salah satu tempat tujuan wisatawan yang datang ke kota Solo.

Saat ini Danar Hadi telah memiliki seribu karyawan yang tersebar di seluruh tanah air. Dan menjadi salah satu merk batik yang terkenal dan banyak peminatnya di Indonesia selain batik semar dan batik keris. Setelah mengetahui sejarah seluk beluk perjuagan berdirinya batik danar hadi, tidak afdhol rasanya jika anda datang ke Solo tidak mampir ke house of Danar hadi untuk menikmati indahnya pemandangan kain batik yang langka dan juga membawa oleh-oleh kain batik yang fenomenal ini.

Categories: