Beratnya Bikin Skripsi di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 melahirkan pergantian perilaku. Saat ini, kita semua diimbau untuk lebih banyak beraktivitas di rumah saja. Siapa yang dulu menyangka, warga di semua dunia perlu meniti perihal seperti ini?

Salah satu yang merasa terdampak bersama dengan suasana ini adalah para mahasiswa- mahasiswi yang sedang selesaikan skripsinya.

Ya, Metha (bukan nama sebenarnya) mengaku alami kesulitan memadai artinya didalam selesaikan skripsi di rumah saja. Baginya, suasana sekarang berikan beban tambahan memadai berarti, khususnya ia termasuk anak yang jarang betah di rumah.

“Saya termasuk orang yang nggak bisa di rumah aja. Jadi, kala mengerjakan skripsi di rumah aja, itu berasa bisa beban tambahan yang perlu dihadapi.

Metha melanjutkan, pengerjaan skripsi sebenarnya udah di mulai sebelum akan pandemi Covid-19 muncul, tepatnya terhadap Januari 2020. Sampai selanjutnya ‘kuliah di rumah aja’ diberlakukan dan gangguan baru pun muncul. “Perasaan aku kayak roller coaster, campur aduk deh semuanya,” ungkapnya.

Ia serupa sekali tidak bisa kuliah di rumah saja, apalagi sambil mengerjakan skripsi. Dulu, sebelum akan tersedia Covid-19, kecuali merasa bosan bikin skripsi di rumah, maka Metha bisa ajak lebih dari satu temannya untuk kumpul berdiskusi sembari nongkrong di Cafe. Namun sejak pandemi Covid-19 merebak dan PSBB diberlakukan, acara kumpul-kumpul diskusi bareng rekan pun tak bisa kembali dilakukan. Sementara, cafe termasuk dilarang buka.

“Awalnya, aku kesal banget! Dan pengin melupakan saja imbauan jaga jarak dan protokol kesehatan lainnya. Tapi, aku selanjutnya memahami sikap seperti itu jadi membahayakan diri sendiri dan keluarga yang aku sayangi.”
Untunglah, Metha selanjutnya bisa berdamai bersama dengan diri sendiri untuk selesaikan skripsi di sedang suasana pandemi Covid-19 dan perlu di rumah aja.

“Pendekatan dengan jasa skripsi kedokteran kualitatif sehingga selayaknya diperkaya bersama dengan interview mendalam atau diskusi bersama dengan lebih dari satu narasumber secara segera atau tatap muka. Namun sebab Covid-19, perihal itu nggak bisa dilakukan.

Hambatan semacam itulah yang mengakibatkan aku sempat putus asa dan malas selesaikan skripsi,” keluh Metha, mahasiswi psikologi salah satu perguruan tinggi di Jakarta itu.Tapi, berdamai bersama dengan diri sendiri adalah kunci selesaikan kasus yang berasal dari didalam diri. Maka, awal Maret 2020, Metha mengaku merasa bisa berdamai bersama dengan semua hal. Ia pun percaya bisa selesaikan skripsinya.

Akhirnya, jadwal sidang proposal pun muncul terhadap awal Mei 2020. Menuju peristiwa ini Metha mengaku benar-benar kesulitan. “Aku memaksa diri sehingga bisa selesaikan Bab 1 hingga Bab 3. Skripsi aku mengulas kesejahteraan psikologis terhadap remaja pasca perceraian. Ketiga bab berikut selanjutnya selesai didalam kala satu minggu,” terangnya.

Lalu, sidang proposal tiba, tepatnya terhadap 13 Mei 2020. Sidang berikut dilakukan secara virtual lewat Zoom Meeting. “Awalnya, aku mengira dapat benar-benar berat. Saya sempat stres termasuk menjelang sidang, hingga nggak bisa tidur. Terlebih berlangsung kala Ramadhan. Tapi, tepat dijalani, ya, Alhamdulillah lancar,” ceritanya.

Problem selanjutnya wawancara narasumber skripsi. Metha menggunakan dua narasumber untuk skripsinya.

Kekuatan penelitian kualitatif tersedia terhadap hasil observasi data. Hal ini didapat salah satunya bersama dengan produksi hasil wawancara. Metha sempat bingung cara jalankan wawancara kualitatif di sedang pandemi.

Pihak universitas pun merekomendasikan jalankan wawancara lewat lebih dari satu metode, call record, zoom meeting, atau email. Tapi, untungnya ke-2 narasumber Metha, setuju untuk wawancara langsung.

“Ini termasuk jadi beban aku untuk menyebutkan ke pihak universitas nantinya. Meyakinkan mereka bahwa ketetapan itu bukan hasil tekanan, tetapi sebenarnya hasrat ke-2 narasumber,” tambahnya.

Categories: