Mengenal Pengendalian Hama Gudang

Hama gudang secara tradisional termasuk hama–hama, baik serangga atau binatang, yang menyerang komoditi di area penyimpanan. Namun seiring berkembangnya zaman, hama gudang tidak hanya menyerang komoditi–komoditi bahan baku di area penyimpanan melainkan termasuk komoditi yang udah jadi product jadi.

Berkembangnya hama gudang turut terbujuk oleh tetap meningkatnya keperluan pangan baik product mentah, setengah jadi maupun product pangan olahan. Proses distribusi product yang melibatkan pindahan wilayah dan penyimpanan komoditas tingkatkan potensi serangan hama gudang.

Hama gudang secara umum dapat digolongkan dari golongan serangga maupun golongan binatang layaknya tikus dan burung. Namun secara umum yang jadi fokus utama di dalam pengendalian hama gudang yaitu dari golongan serangga (stored-product pest insect/SPI) . Golongan serangga di dalam hama gudang dibagi jadi dua tipe yaitu serangga tipe kupu-kupuan (lepidoptera) dan serangga tipe kumbang (coleoptera).

 

Pengendalian hama gudang

Ir Mohamad Rivai, praktisi SPI yang termasuk merupakan alumni Departemen Proteksi Tanaman, IPB Univesity, di dalam wawancara secara daring pada Sabtu (20/2), menyatakan bahwa hama gudang perlu dikendalikan gara-gara menyebabkan rusaknya atau kerugian pada komoditi, baik kerugian secara langsung maupun kerugian secara tidak langsung. Kerugian secara langsung yang disebabkan oleh hama gudang yaitu penurunan bobot komoditi akibat dikonsumsi langsung oleh hama gudang.

Sedangkan kerugian tidak langsung yang disebabkan oleh hama gudang di dalam industri makanan menyangkut pada estetika dari produknya. Potensi kerugian terbesar dari estetika product yaitu dikala suatu product jadi tidak bernilai dan tidak layak dipasarkan, walaupun dari aspek bobot tidak berkurang. Hal ini akan amat berpengaruh pada keberhasilan transaksi perdagangan komoditi, baik perdagangan di dalam negeri maupun perdagangan luar negeri.

“Terdapat sebagian aspek penting yang perlu diperhatikan di dalam pengendalian hama gudang terpadu diantaranya berkaitan metode pengendalian yang dilakukan, tipe hama, tingkat kerugian yang disebabkan, serta tingkat perkembangan populasi di dalam komunitas.

” ujar Rivai. Karenanya, walaupun nampak sama, namun sejatinya kegiatan pengendalian hama gudang antar wilayah dapat berbeda, khususnya di dalam seni meramu metode pengendalian yang efisien sesuai keadaan dan keadaan yang dihadapi.

Selain metode pengendalian tidak benar satu hal terpenting di dalam pengendalian hama gudang adalah kegiatan monitoring. Aktivitas monitoring bermanfaat untuk menilai status keparahan serangan hama dan dampaknya secara ekonomis.

Hal tersebut jadi basic dari keputusan pengendalian yang akan dilakukan. Metode yang digunakan selama proses monitoring dapat dilakukan bersama berbasis pendekatan sampling dan inspeksi. Satu hal yang termasuk jarang dipahami para pengelola gudang (manajemen) dan pengendali hama gudang (fumigator) adalah bahwa pengendalian termasuk merupakan sebuah rangkaian yang melibatkan kegiatan sanitasi lingkungan sebagai upaya preventif.

Pemahaman umum bahwa pengendalian hama gudang (kuratif) perlu diperbaiki gara-gara hanya akan fokus pada akibat serangan hama. Padahal bersama memahami apa yang menyebabkan serangan hama akan dapat menolong manajemen di dalam mengelola hama gudang bersama jauh lebih efektif, hemat cost (efisien) serta berkelanjutan.

 

Berikut merupakan tahapan untuk jalankan pengendalian hama gudang

-Melakukan monitoring untuk pilih susunan populasi dan memandang susunan bangunan area penyimpanan atau kendaraan pembawa komoditi
-Menentukan metode aplikasi yang tepat berdasarkan hasil monitoring di lapangan
-Mempersiapkan alat dan bahan pendukung lainya
-Melakukan pengetesan takaran air pada komoditi
-Melakukan pengendalian hama gudang bersama baik dan benar sesuai metode yang dipilih

 

Teknologi pengendalian hama gudang

Secara umum monitoring dapat dilakukan secara sederhana yaitu manfaatkan panca indera manusia bersama pertolongan perangkap serangga berbasis cahaya maupun perekat. Sementara itu teknik pengendalian dapat dilakukan melalui (kombinasi dari) pengendalian biologis, fisik, mekanik dan kimiawi bersama pertolongan teknologi yang lebih mutakhir.

Industri makanan biasanya memiliki prasyarat tertentu di dalam pengendalian hama gudang khususnya dikala melibatkan bahan kimia dan bahan yang berpotensi membuahkan cemaran fisik. Hal tersebut gara-gara industri pangan mengelola komoditi–komoditi yang akan dikonsumsi oleh manusia, sehingga perlu bebas dari bahaya pangan.

Oleh karenanya, Rivai menganjurkan di dalam pengendalian hama gudang pada industri pangan dapat manfaatkan teknologi yang lebih mutakhir. Menurut Rivai, pemanfaatan teknologi yang mutakhir bertujuan untuk beroleh hasil akhir yang efisien yaitu membunuh hama dan tidak meninggalkan atau mengakibatkan residu pada komoditi tersebut.

 

Fumigasi untuk pengendalian hama gudang

Fumigasi merupakan tidak benar satu metode pengendalian hama gudang yang dianggap paling efisien dan efisien. Namun demikian, metode fumigasi akan efisien dilakukan jika information hasil monitoring udah diperoleh bersama lengkap dan beri tambahan gambaran populasi hama.

Selain itu, perlu diperhatikan pula lingkungan area penyimpanan (gudang) mulai dari dinding, atap, dan tiang bersama seksama. Hal tersebut gara-gara fumigasi pada prinsipnya membutuhkan kekedapan hawa untuk proses mematikan hama sasaran. Sementara itu, jangka kala yang diperlukan untuk jalankan tindakan fumigasi mengatur bersama spesies hama gudang sasaran, susunan populasi dari hama gudang, serta tipe bahan aktif/fumigan yang digunakan.

eknik fumigasi sering dianggap mudah sehingga nampak kesimpulan bahwa semua orang dapat melakukanya. Padahal untuk dapat jalankan fumigasi seorang fumigator (orang yang menyebabkan konsep pelaksanaan fumigasi) perlu memahami bermacam pengetahuan berkaitan pengetahuan kimia, entomologi, pengetahuan fisika, pengetahuan yang berkaitan bersama cuaca mikro, termasuk pemahaman bahaya racun. Hal ini gara-gara fumigasi merupakan suatu metode yang kompleks dan manfaatkan bahan kimia beresiko yang dapat mengancam keselamatan jiwa.

Oleh karena itu perlu dilakukan bersama baik, benar dan hati-hati sehingga membuahkan pekerjaan yang efisien dan efisien termasuk safe pada komoditi dan personel yang jalankan fumigasi.

Selain keterampilan perencana dan teknisi, menurut Rivai, di dalam jalankan fumigasi diperlukan kemahiran atau pengalaman seorang inspektur (orang yang jalankan pengamatan atau monitoring) untuk memperkirakan susunan populasi hama baik pada gudang penyimpanan maupun potensi penyebaran pada kendaraan pembawa komoditi.

Terakhir, personel yang terlibat di dalam pelaksanaan fumigasi perlu memahami langkah deaktivasi debu sisa fumigasi. Hal ini penting untuk menjauhkan kecelakaan kerja akibat ledakan bahan kimia sekaligus mitigasi pada pencemaran lingkungan.

Categories: